.: Creative Gamelan :.

Choose a menu / Pilih salah satu menu:

Play | Download | Screenshot
 
Happy News: You can show this gamelan's application on your website/blog. Just copy and paste this HTML code below to your website/blog using Ctrl+C and Ctrl+V.

Berita Gembira: Anda dapat menampilkan aplikasi gamelan ini di dalam website/blog Anda. Caranya: Copy kode HTML di bawah ini ke dalam layout website/blog Anda dengan menggunakan Ctrl+C dan Ctrl+V.


Senin, 23 Juni 2008

The History of Karawitan

English Version

The Javanese gamelan is a set of instrument used for expressing the musical expression usually referred to as karawitan. The word karawitan is derived from the Javanese word rawit, meaning intricate, complicated. But rawit can also mean delicate, graceful and pleasant. The Javanese word karawitan is specifically used to refer to gamelan music, Indonesian non-diatonically scaled music, using the slendro and pelog scales in their compositions.

For the Indonesian people the art of gamelan contains historical and philosophical values. The gamelan has been handed down from the ancestors of the Javanese and still studied and enjoyed up to this day. The Javanese people have allegedly known gamelan and wayang even before the arrival of Hindu influences.

In the past only past, only the nobility were able to own complete sets of gamelan, but now everyone can own a gamelan, except for those sets that are considered as sacred heirlooms (Timbul Haryono, 2001). Philosophically, the Javanese gamelan cannot be separated from the lives of the Javanese people. The lives of the Javanese are closely related with their art and culture as well as their religious believes.

The term gamelan has long been known, and was already mentioned in Old Javanese kakawins. What the word gamelan means is still a guess. It is perhaps a deviation of or derived from the word gembel. Gembel is and instrument used to strike or hit, and since the instrument is played by striking or hitting, it was called gembelan. Later, gembelan changed into gamelan. Another view is since the instruments are manufactured from forged bronze it was then called gembelan. Thus, gamelan is a musical instrument made by hammering and played by striking (Trimanto, 1984).

For the Javanese the gamelan has aesthetical, social, moral and spiritual significances. Therefore, the Javanese should be proud that they have the gamelan. Even the world acknowledges the gamelan as an eastern musical tradition which is the equal of the great western musical traditions. The gamelan can also be used as a means to cultivate one’s sense of beauty. People who are involved in the world of the gamelan should be able to develop their senses of comradeship, courteousness and politeness. (Trimanto, 1984)

Source: Purwadi and Widayat (2006) Seni Karawitan Jawa

Indonesian Version

Gamelan Jawa merupakan seperangkat instrument sebagai pernyataan musical yang sering disebut dengan istilah karawitan. Karawitan berasal dari bahasa jawa rawit berarti rumit, berbelit – belit, tetapi rawit juga bararti halus, cantik, berliku-liku dan enak.

Kata jawa karawitan khususnya dipakai untuk mengacu kepada musik gamelan, musik Indonesia yang bersistem nada nondiatonis ( dalam laras slendro dan pelog ) yang garapan-garapannya menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memilikia fungsi, pathet dan aturan garap dalam bentuk sajian instrumentalia, vokalia dan campuran yang indah didengar.

Seni gamelan jawa mengandung nilai-nilai histories dan filsofis bagi bangsa Indonesia. Dikatakan demikian sebab gamelan jawa merupakan salah satu seni budaya yang siwariskan oleh para pendahulu dan sampai sekarang masih banyak digemari serta ditekuni. Secara Hipotesis, masyarakat Jawa sebelum adanya pengaruh Hindu telah mengenal sepuluh keahlian, diantaranya adalah wayang dan gamelan.

Dahulu pemilikan gamelan ageng Jawa hanya terbatas untuk kalangan istana. Kini siapapun yang berminat dapat memilikinya sepanjang bukan gamelan-gamelan Jawa yang termasuk kategori pusaka (Timbul Haryono, 2001). Secara filosofis gamelan jawa merupakan satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa. Hal demikaian disebabkan filsafat hidup masyarakt Jawa berkaitan dengan seni budayanya yang berupa gamelan Jwa serta berhubungan dekat dengan perkembangan religi yang dianutnya.

Istilah gamelan telah lama dikenal di Indonesia, sudah disebut pada beberapa kakawin Jawa Kuno. Arti kata gamelan, sampaio sekarang masih dalam dugaan-dugaan. Mungkin juga kata gamelan terjadi dari pergeseran atau perkembangan dari kata gembel. Gembel adalahalat untauk memukul. Karena cara membunyikan instrumen itu dengan dipukul-pukul. Barang yang sering dipukul namanya pukulan, barang yang sering diketok namanya ketokan atau kentongan, barang yang sering digembal namanya gembelan. Kata gembelan ini bergeser atau berkembang menjadi gamelan. Mungkin juga karena cara membuat gamelan itu adalah perunggu yang dipukul-pukul atau dipalu atau digembel, maka benda yang sering dibuat dengan cara digembel namanya gembelan, benda yang sering dikumpul-kumpulkan namanya kempelan dan seterusnya gembelan berkembang menjadi gamelan. Dengan kata lain gamelan adalah suatu benda hasil dari benda itu digembel-gembel atau dipukul-pukul (Trimanto,1984).

Bagi masyarakat Jawa gamelan mempunyai fungsi estetika yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial, moral dan spiritual. Kita harus bangga memiliki alat kesenian tradisional gamelan. Keagungan gamelan sudah jelas ada. Duniapun mengakui bahwa gamelan adalah alat musik tradisional timur yang dapat mengimbangi alat musik barat yang serba besar. Di dalam suasana bagaimanapun suara gamelan mendapat tempat di hati masyarakat. Gamelan dapat digunakan untuk mendidik rasa keindahan seseorang. Orang yang biasa berkecimpung dalam dunia karawitan, rasa kesetiakawanan tumbuh, tegur sapa halus, tingkah laku sopan. Semua itu karena jiwa seseorang menjadi sehalus gendhing-gendhing (Trimanto, 1984).

( Diambil dari buku Seni Karawitan Jawa, Dr. Purwadi, M.Hum dan Drs. Afendy Widayat. 2006 )

Tidak ada komentar: